Belakangan lagi ramai diperbincangkan dibeberapa forum diskusi programmer yang saya ikuti terkait pernyataan bahwa di Indonesia kurang yang jago coding. Banyak yang tidak setuju tapi banyak juga yang setuju, mungkin ya karena masing-masing punya ukuran "jago coding" yang berbeda. Saya pribadi merasakan betapa sulitnya hiring programmer / software developer yang memang mumpuni bahkan yang freshgaduate sekalipun. Dari pernyataan "Indonesia kurang yang jago coding" alangkah baiknya diperkuat dengan data statistik jumlah coder di Indonesia, ukuran 'jago coding'. Namun jika dari data ternyata disimpulkan memang sedikit coder yang jago di Indonesia lantas bisa kah kita menemukan apa penyebabnya?. Sepertinya tidak banyak orang yang membahas ini mungkin karena orang tidak begitu peduli dan masih memandang sebelah mata coder / programmer (semoga asumsi saya keliru).
Kita ga bisa menyangkal masih banyak pandangan masyarakat yang menurut saya keliru tentang profesi coder / programmer / software developer / software engineer. Pandangan yang keliru ini mungkin salah satu alasan kenapa orang tidak mau menjadi programmer dan akhirnya Indonesia jadi kekurangan orang yang jago coding.

Buruh Coding
Walaupun ini seringkali dijadikan anekdot bahkan oleh programmer sendiri namun memang kenyataannya masih dirasakan oleh programmer. Tak sedikit yang diperlakukan seperti halnya buruh yang harus mengikuti kemauan atasannya sekalipun itu salah, karena resiko sudah ditanggung atasan. Si buruh coding akan disalahkan kalau dia tidak mengikuti yang diperintahkan atasannya secara rinci yang sudah dibuat kedalam bentuk desain dan SOP.
Jika salah satu parameter "jago coding" adalah sudah memperoleh pendidikan yang mumpuni (misalnya sarjana S-1 Jurusan Teknik Informatika / Komputer) apakah mereka layak dan akan bersedia jadi buruh?

Kasta Terendah

Programmer seringkali diposisikan sebagai salah satu orang dengan kasta terendah dalam pengembangan perangkat lunak ataupun organisasi perusahaan. Mungkin ini biasanya akibat dari model manajemen kuno yang diterapkan di manajemen pengembangan perangkat lunak.



Melihat struktur organisasi seperti ini sudah kebayang kan orang yang "jago coding" ditambah latar pendidikan yang cukup tinggi akan pilih posisi dimana? Apa lagi tau yang akan jadi atasannya (manajer atau analisnya) tidak lebih jago dan pengalaman / pendidikannya tidak lebih tinggi dari dia. Kemungkinan dia akan menghindari posisi programmer dan memilih posisi yang diatas programmer akhirnya mereka jadi malas "ngoding". Sistem kasta seperti ini juga kadang dijadikan acuan dalam memberikan gaji, semakin rendah kastanya semakin rendah gaji nya.

Tidak Punya Kehidupan
Saking terkesannya kalau programmer tidak punya kehidupan sampe ada grup nya loh dan cukup banyak pengikutnya. Ya walaupun cuman guyonan tapi bisa mencerminkan anggapan masyarakat tentang programmer. Profesi programmer dianggap hanya menghabiskan hidupnya untuk coding dan tak punya kehidupan lain. Ya bagaimana tidak, siang dan malam terpaksa coding untuk ngejar deadline. Waktu untuk keluarga bahkan teman saja sulit diluangkan. Pola hidup tak sehat pun sudah melekat di kehidupan sang programmer. Akhirnya profesi ini hanya banyak diisi oleh para jomblo, freshgaduate yang baru masuk ke dunia kerja (software development). Programmer jago yang berumur, sudah berkeluarga (beristri dan beranak) lama-lama gak betah jadi programmer dan mencari posisi lain yang bisa memiliki waktu luang untuk keluarga dan lebih sehat. Berkurang lagi deh populasi orang Indonesia yang "jago coding".


Hanya Batu Loncatan
Saya miris masih terdengar dikalangan mahasiswa yang terdoktrin kalau mau jadi coder atau programmer ga perlu jadi sarjana, cukup sampe diploma atau bahkan SMK jurusan RPL (Rekayasan Perangkat Lunak). Mahasiswa calon sarjana diarahkan (didoktrin) agar menjadi manajer atau analis, bukan programmer. Hasilnya ya banyak sarjana informatika yang tidak mau jadi programmer atau profesi programmer hanya sebagai batu loncatan untuk menjadi manajer / analis / posisi lainnya yang lebih tinggi dan tidak mengerjakan teknis coding. Ini menyebabkan adanya gap yang cukup jauh antara industri perangkat lunak dengan institusi pendidikan sebagai pencetak pengembang perangkat lunak. Jadinya jangankan yang jago coding, yang mau coding aja jarang.

Meski sekarang di era digital ini profesi programmer sudah mulai dihargai, namun masyarakat masih perlu diedukasi. Masih banyak yang menyerah dengan keadaan atau nyaman dengan kondisi seperti ini. Kita masih punya waktu untuk bersama-sama berkolaborasi menciptakan lingkungan kerja software development yang semestinya. Kita masih memiliki calon benih-benih programmer yang kreatif, berkualitas dan siap bersaing di dunia global. Programmer / coder adalah profesi yang memerlukan kreatifitas dan logika. Kita harus bisa mendengarkan, memfasilitasi dan memberikan kepercayaan kepada orang-orang kreatif tersebut untuk berkarya dan berkembang.
Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama

0 comments:

Posting Komentar

Silahkan Komentar, Kritik atau Saran.

 
Top